Pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia yang semakin pesat tidak hanya menyebabkan volume pasar yang semakin membesar, tetapi juga persaingan yang lebih ketat. Selama tahun 2010 telah berdiri 5 bank umum syariah baru sehingga jumlah bank umum syariah menjadi 11 bank, dan unit usaha syariah sejumlah 23 bank. Potensi perkembangan industri perbankan syariah masih sangat besar. Hingga akhir Desember 2010, aset perbankan syariah telah menembus Rp 100,3 triliun dengan jumlah kantor 1.763 outlet dan lebih dari 20 ribu karyawan yang berkerja pada industri ini. Untuk tetap dapat diperhitungkan dalam Industri Perbankan Indonesia, Bank Muamalat senantiasa melakukan transformasi dan menerapkan strategi yang antisipatif baik dalam menghadapi persaingan maupun kondisi makro dan mikro perekonomian nasional. Dengan transformasi yang telah dilakukan serta berbagai inisiatif pada aspek fundamental yang membuat pondasi bisnis kian kokoh, Bank Muamalat siap tumbuh lebih cepat dan lebih baik.

 

 

Bisnis Ritel

 

Penguatan pondasi bisnis retail sudah diinisiasi sejak tahun 2009 dan semakin diperkuat pada tahun 2010. Penguatan tersebut dimulai dari struktur organisasi, penyediaan sumber daya manusia, model bisnis, produk, platform teknologi informasi hingga perluasan jaringan. Pada tahun 2011, akselerasi bisnis retail akan lebih diintensifkan.

 

Segmen bisnis ritel ditargetkan untuk mendominasi bisnis Bank Muamalat dengan porsi lebih dari 60% dari total Pembiayaan dan Dana Pihak Ketiga. Dengan dominasi bisnis retail ini diharapkan ada risk spreading yang lebih besar selain profitabilitas yang lebih tinggi Pembiayaan ritel yang akan disalurkan kepada segmen mikro, UKM dan konsumer dan perolehan dana murah dari Giro dan Tabungan ditargetkan tumbuh sebesar 30%.

 

 

Untuk mencapai target di atas, beberapa hal penting yang akan dilaksanakan antara lain:

Pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia terutama untuk aktifitas penjualan
Optimalisasi jaringan khususnya meningkatkan produktifitas seluruh jaringan kantor
Pendalaman penetrasi produk di pasar melalui pengembangan dan peluncuran produk baru
Peningkatan budaya layanan dan promosi penjualan
Peningkatan alur kerja operasional

 

Tahun 2010 Bank Muamalat tetap fokus pada pengembangan segmen bisnis ritel dan consumer secara intensif dan berupaya untuk menyeimbangkan portfolio bisnisnya pada segmen korporasi. Segmen bisnis ritel merupakan tulang punggung bisnis Bank Muamalat yang mampu menopang pertumbuhan bisnis terlebih dalam masa krisis. Salah satu faktor utama dalam pertumbuhan segmen ini adalah loyalitas nasabah yang tetap mempercayakan transaksi keuangannya kepada Bank Muamalat. Untuk terus meningkatkan pelayanan kepada nasabah, Bank Muamalat senantiasa melakukan perbaikan terhadap produk dan layanannya agar dapat memenuhi kebutuhan nasabah terhadap layanan syariah. Beberapa pengembangan produk dan layanan baru telah dilakukan di tahun 2010, di antaranya:

Tabungan Haji Arafah (Maret),
Tabungan Haji Arafah Plus (Maret),
Dana Talangan Porsi Haji (Maret),
TabunganKu (April),
Tabungan Muamalat (Agustus),
Tabungan Muamalat Pos (Agustus),
Pembiayaan Hunian Syariah Kongsi (Agustus),
Pembiayaan Hunian Syariah Pembelian (Agustus),

Automuamalat & Joint Financing Multifinance (Oktober),

Tabungan Muamalat Sahabat (Oktober).

 

Dengan proses segmentasi, bank-bank syariah sudah mampu melahirkan variasi produk yang beragam. Nasabah tidak lagi ditawarkan konsep akad produk, tetapi manfaat produk itu sendiri. Penajaman segmentasi oleh Bank Muamalat di sini, misalnya, tercermin pada pemecahan produk tabungan Haji menjadi Tabungan Haji Arafah & Tabungan Haji Arafah Plus. Selain itu, dilakukan pembedaan fitur tabungan generik dengan tabungan aliansi menjadi Tabungan Muamalat, Tabungan Muamalat Pos, dan Tabungan Muamalat Sahabat, serta penyesuaian perhitungan cash ratio bagi calon nasabah Pembiayaan Hunian Syariah.

 

 

Bisnis Korporasi

 

Bisnis korporasi tumbuh 17% melalui pembiayaan untuk berbagai bidang usaha, antara lain energi kelistrikan, oil & gas, pertambangan, telekomunikasi, infrastruktur, industri makanan, kesehatan, pendidikan, termasuk pembiayaan kepada perusahaan perdagangan dan perusahaan multifinance.

 

Seiring dengan perkembangan usaha, perusahaan telah menetapkan kebijakan bahwa pembiayaan usaha kecil dan menengah akan menjadi prioritas untuk masa yang akan datang, namun dengan tidak meninggalkan pembiayaan korporat yang telah ada saat ini. Terhadap hal ini, maka bisnis korporasi akan difokuskan untuk pengembangan usaha existing serta pengembangan pembiayaan sindikasi.

 

Sebaliknya untuk aktivitas pendanaan (funding), akan dilakukan upaya untuk meningkatkan Dana Pihak Ketiga secara agresif, khususnya melalui upaya menumbuhkan rekening giro, yang memiliki karakteristik beban dana yang rendah. Untuk mencapai hal tersebut, sarana berupa produk dan layanan pendukung akan diluncurkan, antara lain : Cash Management dan Internet Banking.

 

Untuk antisipasi risiko pembiayaan, pada tahun 2010 telah ditetapkan kebijakan limit approval pembiayaan dengan memperhitungkan maximum exposure untuk tiap sektor industri berdasarkan risk appetite untuk tiap level risiko yang inherent pada sektor tersebut. Divisi Manajemen Risiko akan memantau pelaksanaannya untuk memastikan limit sesuai ketentuan. Dengan demikian, ke depan diharapkan aktivitas pembiayaan dijalankan dengan risiko yang lebih terukur dan lebih prudent.

 

Seiring volume dan kompleksitas bisnis para nasabah yang dinamis, dibutuhkan transaksi dan fasilitas pembiayaan yang semakin besar. Untuk menggarap pasar potensial tersebut, maka Unit Sindikasi yang telah dibentuk akan semakin diintensifkan. Dengan dibentuknya Unit Sindikasi ini, maka Bank Muamalat ingin memastikan bahwa nasabah korporasi tetap terlayani, dengan memperhatikan kaidah mengendalikan risiko yang memadai. Unit Sindikasi mampu melakukan penataan proyek, menjadi partisipan, serta sekaligus menjalankan fungsi keagenan (facility, security, dan escrow agent).

 

 
The rapid growth of sharia banking in Indonesia does not only lead to bigger market volume, but also fiercer competition. During 2010 there had been 5 new sharia full banks established, so today there are 11 banks and 23 sharia business unit. The development potential of sharia banking industry is still numerous. As per end of December 2010, the sharia banking assets penetrated IDR 100,3 trillion with total number of 1.763 offices and more than 20 thousand of employees working in the industry. To stay in the competition in Indonesia’s banking industry, Bank Muamalat always delivers transformation and implements anticipative strategy to encounter the fierce competition or the condition of national macro and micro economy. With the implemented transformation and various initiatives on fundamental aspect which have strengthen the business foundation, Bank Muamalat is set to grow faster and better.

 

 

 

Retail Business

 

The strengthening of retail business foundation has been initiated since the year 2009, and 2010 saw more effort on the strengthening, covering the organizational structure, human resources availability, business models, products, technology platform and network expansion. In the year 2011, retail business acceleration is going to be intensified.

 

Retail business segment is targeted to dominate Bank Muamalat’s businesses with a portion of more than 60% of Total Financing and Third party Fund. With this retail business domination, it is expected that there will be a bigger risk spreading as well as higher profitability. Retail financing will be distributed to micro segments, Small and Medium Enterprises (UKM) and consumers. The retail business and inexpensive fund gained from Demand Deposits and Savings are targeted to grow as big as 30%.

 

To meet the targets, will be implemented several important plans:

 

Acquiring human resources especially for sales activities

 

Optimizing the network, especially to improve productivity of the whole office network
Intensifying product penetration through development and the launch of new products
Improving service culture and sales promotion
Improving operational workflow

 

Throughout the year 2010, Bank Muamalat focused on intensively developing retail and consumer business segment, and trying to balance its portfolio at corporate segment. Retail business segment is the backbone of Bank Muamalat’s business that can support business growth, especially during monetary crisis. One of the main factors in this segment growth is the customers’ loyalty to keep their financial transactions handled by Bank Muamalat. To continuously improve services to customers, Bank Muamalat always sorts out its products and services so that the Bank can cater the products and services that are best suited to customers’ needs of sharia banking. Several developments of products and services had been implemented in the year 2010, among others :

 

Hajj Arafah Savings (March),
Hajj Arafah Plus Savings (March),
Hajj Portion Reserve Fund (March),
My Saving (April),
Muamalat Savings (August),
Muamalat Pos Savings (August),
Sharia Residential Partnership Financing (August),
Sharia Residential Purchase Financing (August),

Automuamalat & Joint Financing Multifinance (October),

Muamalat Sahabat Savings (October).

 

With segmentation process, sharia banks are capable of creating a variety of products. The customers are no longer offered the akad product concept, but the benefits of that particular product. Segmentation Focus by Bank Muamalat is reflected in the split-up of Hajj savings into two kinds: Hajj Arafah Savings and Hajj Arafah Plus Savings. Besides that, the Bank has differentiated generic savings features with alliance savings into Muamalat Savings, Muamalat Pos Savings, and Muamalat Sahabat Savings. The Bank also adjusted cash ratio calculation for prospective customers of Sharia Residential Financing.

 

 

Corporate Business

 

Corporate Business grew 17% through financing for various businesses, such as power generation, oil and gas, mining, telecommunication, infrastructure, food & beverages industry, wellness industry, education, and also financing for trading companies and multifinance companies.

 

Along with the business development, the Company has made a policy that financing of Small to Medium Enterprises will be the priority in the future, but it will not abandon the existing corporate financing. Corporate business will be focused on the existing business and developing syndicated financing.

 

 

 

On the other hand, for funding activities, the Company will aggresively try to increase the Third Party Funds, especially by developing demand deposits, whose fund cost is low. To reach that target, the Company will launch several products and support services, such as Cash Management and Internet Banking.

 

 

To anticipate the financing risk, in 2010 a policy about limit approval for financing was implemented, by calculating the maximum exposure for each industrial sector based on the risk appetite for each inherent risk level at that sector. Risk Management Division will monitor the implementation to ensure that the limit complies with the provisions. Therefore, it is expected in the future that financing activities can be implemented with more measurable risk and more prudence.

 

Along with the dynamic volume and complexity of the customer’s business, customer needs bigger transaction and financing facilities. To cultivate such potential market, the newly established Syndication Unit will be more intensified. With this unit, Bank Muamalat wants to make sure that corporate customers are still well serviced while complying with the provision of proper risk control. Syndication Unit is able to do project arrangement, to be participant, and to run the function of agent (facility, security and escrow agent).

 

 

 

 

 

 

Bisnis Internasional & Tresuri

 

Bank Muamalat mulai mengoptimalkan fungsi tresuri dan bisnis internasional menjadi salah satu unit bisnis strategis yang dapat menghasilkan pendapatan melalui fungsi yang telah direposisi dari yang sebelumnya hanya merupakan unit pendukung menjadi unit bisnis bagi perusahaan. Untuk mewujudkannya upaya mengoptimalkan pendapatan dari instrumen pasar uang dan pasar modal yang sesuai syariah terus akan dioptimalkan. Sementara upaya untuk menciptakan pendapatan dalam bentuk fee based income dilakukan dengan menginisiasi trade finance, mengoptimalkan bisnis remittance, dan lain-lain.

 

Strategi pengembangan bisnis tresuri erat kaitannya dengan perkembangan portofolio dan pemain perbankan syariah yang meramaikan transaksi money market dan capital market syariah. Dimasa datang, inovasi produk tresuri berbasis syariah akan menjadi ruang bisnis yang cukup profitable. Penempatan pada instrument money market bank syariah seperti penempatan di Bank Indonesia seperti Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) dan Fasilitas Bank Indonesia Syariah (FASBIS) akan menjadi pilihan sebagai penyeimbang likuiditas. Sementara penempatan interbank melalui produk Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank (SIMA) pun dapat menjadi income generating placement yang baik.

 

Penempatan di pasar modal, seperti pada Sukuk negara maupun korporasi, sudah cukup banyak tersedia dan memberikan imbal hasil yang cukup baik. namun, disadari bahwa keberadaan instrumen yang ada saat ini masih belum banyak dan kurang bervariasi, sehingga diperlukan upaya bersama untuk mengembangkannya.

 

Pengembangan jaringan kerjasama regional dan internasional selama tahun 2010 (melalui program penyediaan counter-party limits) diharapkan berperan dalam penyediaan alternatif bagi penghimpunan dana valuta asing seperti Dolar AS dari bank-bank asing. Penempatannya akan dilakukan, antara lain, pada Sukuk yang memberikan hasil yang cukup baik. Cabang Kuala Lumpur akan dijadikan jaringan untuk penempatan pada portofolio Dolar AS. Di samping itu, Cabang Kuala Lumpur juga akan dioptimalkan untuk memobilisasi dana valuta asing untuk pembiayaan sindikasi dan layanan investasi.

 

Untuk meningkatkan fee-based income, telah dilakukan optimalisasi dan penambahan fitur produk remittance & trade finance. Fee-based income lainnya diharapkan dari penjualan produk bancassurance sharia dan investment link. Dalam rangka mengoptimalkan aktivitas International Banking (iB) tahun 2011, Bank Muamalat juga akan mengembangkan jasa investment service yang akan berperan sebagai penyedia kebutuhan pembiayaan yang saat ini belum dapat dibiayai langsung atau masih terkendala aturan Batas Maksimum Pemberian Pembiayaan (BMPP).

 

Pengembangan dan penajaman infrastruktur seperti kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan segmen tresuri, financial institutions, dan international banking adalah faktor yang sangat penting untuk memastikan aktivitas jasa yang menghasilkan fee serta penempatan pada produk tresuri dapat terlaksana dan memberikan kontribusi pada pendapatan Bank Muamalat tahun 2011.

 

 

Treasury & International Business

 

Bank Muamalat starts optimizing the function of treasury and international business into one of strategic business units that can produce revenue through repositioned function, when previously was only a supporting unit to the business units at the Company. To realize this the effort that optimizes revenues from money market and capital market which comply with sharia will be optimized.While for the efforts to create revenue in the form of fee based income is conducted by initiating trade finance, optimizing remittance business and others.

 

 

The development strategy on treasury business is closely related to the portfolio development and Islamic banking players who enliven the transaction in money market and Islamic capital market. In the future, the innovation in sharia-based treasury product will become a profitable business space. The placement in sharia bank money market instrument such as placement in BI like Bank Indonesia Sharia Certificate (SBIS) and Bank Indonesia Sharia Facilities (FASBIS) will become options as liquidity balancer. Meanwhile, interbank placement through Interbank Mudharabah Investment Certificate (SIMA) product will also become a good income generating placement.

 

The placement in capital market such as state or corporate sukuk has been available and provides a good return. But it is also realized that the existing instrument is still not much and still less variant. Accordingly, a joint effort is needed to develop it.

 

 

 

The development of regional and international cooperation network in 2010 (through counter- party limits supply program) is expected to play a role in the alternative supply of foreign exchange fund collecting such as US dollars from foreign banks. The placement will be conducted in, to name one, sukuk that provides a good return. The Kuala Lumpur branch will be utilized as placement network in USD portfolio. The Kuala Lumpur branch will also be optimized to mobilize foreign exchange fund for syndicated financing and investment services.

 

 

To increase the fee-based income, optimization and additional features have been delivered to remittance & trade finance products. Other fee-based income is expected to be earned from the selling of sharia bancassurance & investment link. In order to optimize International Banking (IB) activity in 2011, Bank Muamalat will also develop investment services where in this term Bank Muamalat will act as a financing needs provider which currently cannot be directly financed or still hindered by the regulation of Legal Lending Limits (BMPK).

 

 

The development and enhancement infrastructure such as policy, SOP and IT related treasury segment, financial institutions and international banking, is an essential factor to ensure the service activities which produce fee and placement in treasury products; and can be implemented and contribute to Bank Muamalat’s revenue in 2011.