Cari

BERANDA > BERITA & KARIR > INFO MUAMALAT > BERITA INDUSTRI SYARIAH


  • Senin, 26 Juli 2004

    JAKARTA - RUMPUT tetangga terlihat lebih hijau. Itulah agaknya yang membuat Bank Rakyat Malaysia melirik saham Bank Muamalat Indonesia. Bank syariah pertama di Indonesia ini rencananya akan menerbitkan saham baru (right issue), September nanti.

    "Bank Rakyat Malaysia sudah menyatakan minatnya membeli saham sebesar 20 %," kata Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia, Ahmad Riawan Amin, Sabtu lalu. Selain Bank Rakyat Malaysia, kata Riawan, rnasih ada beberapa lembaga keuangan lagi yang memesan.

    Beragam produk perbankan syariah kini memang gurih. Apa saja yang berbau Syariah langsung dilahap. Dari tabungan, saham, asuransi, hingga obligasi. Aset dan jaringan perbankan syariah juga tumbuh menjamur.

    Menurut catatan Bank Indonesia (BI), hingga Oktober lalu, aset syariah tumbuh pesat mencapai 67 %. Pangsa pasar perbankan syariah terhadap bank konvensional juga berkembang dari 0,36 % saat akhir 2002 menjadi 0,54 % pada akhir 2003. "Walaupun masih kecil dibandingkan dengan bank konvensional, pertumbuhannya tinggi," kata Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah.

    Rasio perbandingan dana pihak ketiga dengan pembiayaan yang dikeluarkan (financing to deposit ratio - FDR) bank syariah juga tinggi. Hingga Oktober lalu, angkanya mencapai hampir 110 %. "Bandingkan dengan tingkat loan to deposit ratio (LDR) perbankan nasional yang masih berada pada angka 42 %," tutur Burhanuddin.

    Data-data itu memang menggembirakan BI, tapi bagi BI sekaligus menimbulkan waswas. Soalnya, tingginya angka FDR itu pelan-pelan diikuti dengan trend penurunan. FDR yang sebelumnya sempat mencapai 112 % (November 2002), 110 % (Oktober 2003), kini hanya mencapai 106 %. "Jika tak berhati-hati, bisa terjadi kelebihan likuiditas (over-liquid)," kata Burhanuddin, Kamis pekan lalu.

    Gejalanya, banyak duit yang masuk tctapi tak bisa disalurkan. Akibatnya, perut bank jadi buncit. Kalau jumlah FDR itu tak ditekan, bank gendut ini susah menjaring laba.

    Tanda-tanda membuncitnya perut bank syariah ini terlihat sejak Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa bunga bank haram, November lalu. "Likuiditas perbankan syariah terus meningkat jauh lebih tinggi dari biasanya," ujar Burhanuddin.

    Itu bisa dilihat dari naiknya angka Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI). Semacam SBI pada bank konvensional. Sebelum fatwa bunga haram keluar, jumlah SWBI sekitar Rp 600 milyar. “Kini mencapai Rp 1 triliyun. Bahkan 3 mingggu sesudah fatwa itu naik mencapai Rp 2 triliyun," kata Burhanuddin.

    Kenaikan SWBI ini dibarengi menumpuknya dana pihak ketiga yang mencapai total Rp 5,7 triliyun pada Desember lalu. Padahal, penyaluran pembiayaan hanya mencapai Rp 5.5 triliyun.

    Gejala ini juga terlihat di daerah. Asosiasi Bank Syrariah Indonesia Sumatera Utara mencatat angka FDR di sana mencapai 85 %. Padahal, tahun lalu mampu mencapai 95 %.

    Bank yang terlalu gendut tentu bakal mengundang banyak masalah. Misalnya saja, jatah pembagian keuntungan alias nisbah untuk nasabah terpaksa dipotong. Menurut pimpinan Bank Syariah Mandiri (BMS) Surabaya, Sugiharto, rata-rata nisbah untuk bank dan deposan adalah 49 : 51 pada tahun 2003. namun saat ini nisbahnya menjadi 55 : 45 untuk nasabah.

    Walau begitu, Presiden Direktur BMS, Nurdin Hasibuan, merasa “wabah bank buncit" itu tak menggangu. “ Kelebihan likuiditas itu hanya terjadi selama tiga bulan sejak fatwa MUI itu, " tutur Nurdin.

    Kini BMS memang sedang giat mengumbar duit lewat berbagai pembiayaan. "Bulan ini, dana yang akan diserap masyarakat niencapai Rp 400 milyar. Tapi kami akan tetap berhatihati," kata Nurdin.

    Kondisi serupa terjadi di Bank Muamalat. Riawan mengatakan, selama ini kelebihan dana Muamalat tak pernah lewat dari Rp 200 milyar. "Kini kelebihan dana kami mencapai Rp 600 milyar," katanya.

    Tapi Riawan mengaku sudah menyiapkan sejumlah strategi untuk merampingkan banknya. "Kami akan mendirikan Muamalat Center di 120 titik di kota-kota besar," kata Riawan. Tugas utamanya, menyalurkan pembiayaan pada masyarakat.

    BNI syariah juga idem. Menurut pimpinan Divisi Usaha Syariah Bank BNI, Rizqullah, dana ngangur di hanknya mencapai Rp 100 milyar. Tapi Direktur Utama BNI, Sigit Pramono, mengaku tak terlalu khawatir dengan kondisi unit syariahnya.

    Lalu, bagaimana mengatasinya? Hampir semua bank mengatakan, bank harus lebih banyak membuka saluran alternative. “Berbagai fasilitas dan system harus terus disempurnakan," kata Sigit.

    Bank Muamalat membuat terobosan. Selain membuat Muamalat Centre, bank ini mengeluarkan produk Shar-E, Rabu pekan lalu (lihat: Senjata Shar-E Menjaring Dana).

    Melihat beragam usaha itu, Ketua Dewan Syariah Nasional, Ma`ruf Amin, yakin selama enam bulan ke depan, perbankan syariah bakal ramping dan elok lagi. "Kami akan terus inovatif," kata Ma`ruf.

    Misalnya saja, menurut Ma`ruf, lembaganya baru saja merestui adanya obligasi syariah ijarab (sewa-menyewa properti). "Pelanggan pertamanya raksasa retail Grup Matahari," katanva.

    Yang perlu seger dibereskan, kata Ma’ruf, adalah penyusunan sistem perbankan syariah yang belum juga kelar. Dari rancangan undang-undang perbankan syariah, peraturan pasar modal syariah, hingga penyempurnaan wewenang Dewan Pengawas Syariah.

    Ma’ruf juga melihat sosialisasi syariah perlu digalakkan. Selama ini yang dating berbondong-bondong ke bank syariah adalah nasabah perorangan. Pelanggan yang lebih gede seperti perusahaan masih ragu-ragu. “Peran ulama dan pemerintah sangat dibutuhkan," kata Ma’ruf.

    SEJATA SHAR-E MENJARING DANA

    MESKI bank syariah mulai kegendutan, ada saja Inovasi baru untuk menjaring nasabah. Rabu pekan lalu, Bank Muamalat Indonesia meluncurkan Shar-E di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat. Produk ini mengandung tiga makna, yakni easy, ever-ywhere, extraordinary. Pengertiannya, cara berbagi hasil dengan mudah, aman, dapat diakses dari mana-mana. Bentuknya berupa layanan Investasi syariah berbasis teknologi yang mengombinasikan akses investasi syariah, ATM, dan kartu Debit.

    Menurut Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia, A. Riawan Amin, Shar-E merupakan kartu InvestasI pertama di Indonesia, bahkan di dunia, yang akan dikelola sesuai dengan syariah. Untuk memasarkan kartu ini, Bank Muamalat menggandeng manajemen Pos lndonesia, yang punya kantor cabang di seluruh kota.

    Stater pack Shar-E seharga Rp 125.000 dapat dibeli diseluruh jaringan kantor pos di Indonesia. Para pemegang kartu dapat mengaktivasi nomor rekening tanpa harus datang ke Bank Muamalat. Dengan membeli kartu tersebut, nasabah akan memiliki rekening tabungan perdana sebesar Rp 100.000. Sisanya merupakan Investasi untuk kartu, delivery, dan administrasi aktivasi. Saat ini, pengguna Shar-E juga dapat mengakses 18.000 Debit BCA, dan memperoleh akses penarikan tunai secara halal dan gratis pada 4.885 ATM BCA dan ATM Bersama.

    Riawan optimistis, dalam jangka panjang, kartu Shar-E bisa dipakai oleh mitra aliansi Bank Muamalat, seperti Shar-E Pegadaian, multl finance, maupun bank-bank konvenslonal. Mereka bisa mengelola dana nasabahnya secara syariah tanpa harus membuka unit syariah, melainkan cukup dengan beraliansi dengan Bank Muamalat lewat "kartu sakti" itu.

    "Munculnya Shar-E menyibak status `kedaruratan` bank syariah, seperti disebut-sebut dalam fatwa MUI," kata Riawan. Faktanya, tanpa Shar-E pun, aliran dana ke Bank Muamalat melonjak tajam. Terbukti, modal usaha mengalami perbaikan delapan kali lipat dari Rp 39 mllyar pada 1998 menjadi Rp 311 mllyar pada akhir 2003.

    Sumber: Gatra, 27 Maret 2004



   
Lowongan Pekerjaan di Cabang Malang
 
Lowongan Kerja MODP Spesialis IT (MODP IT)
 
BANK MUAMALAT - Micro Jawa Tengah
 
BANK MUAMALAT - Micro Jawa Tengah
 
BANK MUAMALAT - Micro Jawa Tengah
 
BANK MUAMALAT - Micro Jawa Tengah
 
 
 

KLARIFIKASI KERJASAMA (ANTI FRAUD) 2013      PROMO SUBSIDI BELANJA 20%      Efektif per 1 Maret 2013 biaya kartu Shar-e Gold Debit adalah Rp 2.500,- per bulan. Info hubungi SalaMuamalat (021) 500016      Project Falah-Proposed Announcement      Bank Muamalat Targets Higher Fee-Based Income      Bank Muamalat Receives IDR328 Billion Funding from SMF      Sarana Multigriya distributes IDR328 billion to Bank Muamalat      Bank Muamalat to diversify credit distribution      Bank Muamalat Readies for Rp 1.5t Islamic Bond Sale      Bank Muamalat Issues Subordinated Sukuk Worth IDR 1.5 Trillion      Muamalatís sukuk set to be launched      Bank Muamalat shareholders to absorb IDR800 billion subordinated bonds      SHARIA BANKING: Q1, Bank Muamalat pockets IDR86.9 billion net profit