Republika, 4 Februari 2010
Oleh Anjar Fahmiarto dan Mansyur Faqih
Indonesia sangat berpotensi mengalahkan Malaysia.
Negara-negara petro dolar atau penghasil minyak di Timur Tengah kini banyak yang meng-alamai over likuiditas. Ini terjadi karena harga minyak dunia yang semakin naik. Dengan likuitas yang berlebih tersebut, banyak negara Timur Tengah yang ingin menanamkan dananya di sektor investasi di berbagai negara. Yang menjadi tujuan terutama instrumen investasi yang berbasis prinsip syariah. Dan sukuk atau obligasi syariah menjadi salah satu pilihan yang banyak dilirik. Banyak negara di dunia yang telah menerbitkan sukuk sebagai salah satu instrumen investasi. Dengan penerbitan sukuk, maka negara akan mendapatkan sumber pembiayaan alternati untuk pembangunan.
Malaysia adalah salah satu negara tetangga yang telah menerbitkan sukuk sejak beberapa tahun lalu. Di negara tersebut, sukuk telah menjadi salah satu sumber investasi untuk pembangunan negara. Dengan sukuk itu Malaysia mendapatkan dana segar dalam jumlah yang besar dari investor mancanegara. "Menteri Keuangan Malaysia sempat mengatakan, kalau 60 persen dari pendapatan negaranya berasal dari ekonomi syariah. Termasuk dari sukuk," kata pakar ekonomi Islam, Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS.
Ia melanjutkan, di Malaysia pembiayaan Islam sudah menjadi kebijakan negara yang integral dengan strategi negara. Karenanya, pemerintah memberikan dukungan yang besar terhadap sukuk. Tak heran jika banyak pembangunan di negara tersebut yang sumber pendanaannya berasal dari pembiayaan Islam, termasuk sukuk. Misalnya, Sirkuit Sepang yang menjadi salah satu arena balap mobil Fl.
Sejumlah di Asia dan Eropa juga telah menerbitkan sukuk. Antara lain Jerman, Inggris, Kanada, Dubai, Uni Emirat Arab, Kuwait, Pakistan, Qatar, dan Singapura. Bahkan, di Inggris sukuk telah masuk dalam struktur anggaran pembiayaan negaranya.
Indonesia terbilang terlambat menerbitkan dan memasarkan sukuk. Padahal, seperti ditegaskan Presiden Direktur KARIM Business Consulting, Adiwarman A Karim, tidak ada keraguan sedikit pun bahwa sukuk dengan sistem syariahnya akan jauh lebih baik daripada surat utang yang berbasis bunga. Pertama, penggunaan dana sukuk sejak awal jelas untuk membangun suatu proyek.
Kedua, risiko sukuk terdefinisi sejak awal oleh proyek yang dibiayainya. Dan ketiga, kedisplinan penggunaan dana sukuk menjadi suatu keharusan karena sifatnya yang membiayai proyek tertentu.Didin menegaskan, sukuk dapat menjadi salah satu alternatif bentuk pembiayaan bank-bank syariah. Sehingga, bank syariah dapat semakin berkembang dan kuat. Hal ini karena pembiayaan sukuk umumnya digunakan untuk sektor riil yang dampaknya dapat langsung dirasakan masyarakat.
Antara lain pembangunan infrastruktur, seperti jembatan, transportasi, dan bandara. "Hal ini sesuai dengan karakter pembiayaan bank syariah. Dengan semakin banyaknya dana yang masuk, maka bank syariah akan semakin besar dan berkembang. Bank syariah pun tidak sekadar menjadi investor, melainkan juga memiliki sumbangsih terhadap perkembangan sektor riil," papar Didin.
Kalahkan Malaysia
Senior Vice President HSBC Amanah, Mahmoud Abushamma, mengungkapkan, Indonesia diperkirakan bisa mengalahkan Malaysia dalam hal penerbitan sukuk negara. Alasannya, meski Malaysia mendominasi nilai penerbitan sukuk dunia, namun negara itu hanya memiliki satu sukuk global negara.
Satu-satunya sukuk global negara Malaysia itu diterbitkan pada Juli 2002 dengan nilai 600 juta dolar AS. Sementara, sukuk global Indonesia diproyeksi mencapai satu miliar dolar AS. "Kalau tahun ini Indonesia jadi menerbitkan sukuk satu miliar dolar AS, Indonesia langsung mengalahkan Malaysia," katanya kepada Republika beberapa waktu lalu.
Menurutnya, bukan isapan jempol Indonesia bisa mengalahkan Malaysia. Hal itu karena Indonesia memiliki berbagai potensi pendukung yang tidak dimiliki negara lain di Asia Tenggara. Salah satunya adalah karena negara kepulauan itu merupakan salah satu negara dengan tingkat pertumbuhan tertinggi di Asia Tenggara. Indonesia juga memiliki banyak proyek infrastruktur bernilai ratusan miliar dolar AS. "Dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia membutuhkan dana sebesar 150 miliar dolar AS untuk membiayai proyek infrastruktur," kata Mahmoud.
Hal senada diungkapkan Didin. Menurutnya, perkembangan sukuk di Malaysia memiliki keterbatasan untuk berkembang. Pasalnya, salah satu syarat sukuk adalah harus terkait dengan pembangunan infrastrukur. Sementara, di negara jiran tersebut, kapasitas pembangunan infrastrukturnya terbatas. "Berbeda dengan Indonesia yang memiliki kapasitas pembangunan inftrastruk-tur yang lebih besar," tegas Didin.
Direktur Batasa Tazkla, Heriyakto S Hartomo, mengakui hal serupa. Indonesia, katanya, memang berpotensi mengalahkan Malaysia dalam nilai penerbitan sukuk global negara dan menjadi hub keuangan syariah Asia Tenggara pada 2012. "Saya kira proyeksi bahwa Indonesia menjadi hub keuangan syariah pada 2012 cukup beralasan," katanya.
Kesempatan ini, ujar Didin, seharusnya digunakan sebaik-baiknya, khususnya oleh pemerintah. Pemerintah harus memberikan dukungan dan jaminan sepenuhnya untuk perkembangan sukuk di Indonesia.
Masalahnya, Didin menilai, pemerintah masih memperlakukan sukuk sebagai sumber pembiayaan untuk menutup defisit. Bukannya, untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Bed.- kelana
|
|||||||||||||||