analytics
Data Recovery
Bank Muamalat Syariah ::

Cari

BERANDA > BERITA & KARIR > > SIARAN PERS


  • Rabu, 3 Februari 2010
     
     
     
    Talkshow Islamic Investment : Direktur Utama Bank Muamalat, Arviyan Arifin (kedua kiri) berbincang-bincang dengan Direktur Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang dan Pembiayaan Syariah Departemen Keuangan, Dahlan Siamat (kiri), Direktur Bank Muamalat, Farouk A. Alwyni dan Direktur Utama AAA Sekuritas Andri Rukminto (paling kanan) pada acara Business Gathering dan Talkshow Islamic Investment di Ballroom Hotel Ritz carlton Pacific Place, Jakarta 03/02/2010.
     

     

    Sejak ditandatanganinya MoU bersama antara Bank Muamalat Indonesia (BMI) dengan  PT. Andalan Artha Advisindo Sekuritas (AAA Sekuritas) pada 19/01/2010, BMI tampak kian agresif memasarkan sukuk ritel. Rabu 03/02/2010 BMI menyelenggarakan Business Gathering di Ballroom hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta. "Merupakan suatu kehormatan bagi saya berkontribusi di acara ini", ujar presenter Sandrina Malakiano, MC sekaligus Moderator membuka acara ini. Untuk mempromosikan sukuk ritel BMI menyelenggarakan Business Gathering hingga ke daerah-daerah dengan mengundang kalangan korporasi, pebisnis, tokoh masyarakat, tokoh agama, nasabah prima, serta media lokal dan nasional. Sebelumnya, acara serupa telah diselenggarakan di Swiss Belhotel Medan, Kamis 28/01/2010, kali ini giliran Jakarta.           

    BMI mengharapkan keuntungan tak semata-mata dari penjualan sukuk ritel ini.  Ibarat sambil menyelam minum air, kehadiran produk sukuk ritel ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk mengajak masyarakat menjadi nasabah BMI. "Sukuk ritel ini memiliki imbal hasil yang bagus, saya optimis kehadiran sukuk ritel di BMI dapat menjadi jembatan bagi masyarakat untuk memanfaatkan produk dan jasa syariah yang ditawarkan Bank Muamalat", ungkap Arviyan Arifin, Direktur Utama BMI.

    Sukuk ini dipasarkan hanya dari tanggal 25 Januari hingga 5 Februari 2010, BMI kini telah menghimpun sekitar 50% dana yang ditargetkan, karena BMI telah memiliki pengalaman menerbitkan sukuk dan memiliki jaringan yang sangat luas. BMI membidik pasar sukuk ritel dengan memanfaatkan jaringannya yang semakin luas, yang tersebar di 33 propinsi di Indonesia dengan lebih dari 270 kantor layanan. "Sukuk ritel ini merupakan diversifikasi instrument syariah yang secara langsung ikut membiayai pembangunan nasional", imbuhnya.

    Sukuk yang dipasarkan merupakan sukuk seri002 yang dapat dimiliki oleh individu ataupun perseorangan Warga Negara Indonesia (WNI). Tak tanggung-tanggung penerbitan sukuk ini telah mengantongi fatwa dari Dewan Syariah Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI). Menurut koordinator sukuk ritel BMI,  Yudistira Brilliano, sukuk seri ini prinsipnya bebas dari resiko gagal bayar, karena pokok dan imbalhasilnya dijamin oleh negara. Selain itu, sukuk tersebut juga dapat dijadikan jaminan atau digadaikan pada pihak lain. Sukuk ini bersifat likuid karena dapat diperdagangkan sehingga nasabah berpotensi mendapatkan capital gain bila sukuk dijual dengan harga yang lebih tinggi dibanding harga pembeliannya. Nasabahpun terbebas dari resiko pasar, karena nasabah dapat menahan sukuk tersebut hingga jatuh tempo apabila harga pasar sukuk ini tidak bagus.

    Pembelian sukuk ini sangat simpel, masyarakat cukup membelinya di cabang BMI terdekat, selanjutnya pemerintah akan melakukan penjatahan dan settlement masing-masing pada tanggal 8 dan 10 Februari. Dengan denominasi 5 juta rupiah, siapapun bisa memilikinya. Imbal hasil akan dibayarkan oleh pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) melalui transfer ke subregistry Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Selanjutnya KSEI akan mentransfer imbal hasil tersebut kepada agen penjual yang akan akan mendistribusikan dana tersebut kepada para investor (hnf/hnf).



   
Lowongan Pekerjaan - Back Office
 
Lowongan Pekerjaan - Resepsionis
 
Lowongan Pekerjaan - Account Manager
 
Membidik Potensi Otomotif
 
BMI dan Alif Bersinergi di Otomotif
 
Rambah Pembiayaan Otomotif Syariah, Muamalat Kucurkan Rp 250 Miliar